Desa Meteseh merupakan desa yang terletak di Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. Wilayah ini memiliki keterikatan yang sangat erat dengan kisah perjuangan para pemimpin serta keberadaan Dusun Teseh yang menjadi salah satu titik awal peradaban masyarakat setempat. Pada zaman dahulu, wilayah Meteseh ini merupakan wilayah hutan dan perkebunan kopi yang biasa disebut orang Jawa sebagai “Kopen”. Adapun tumbuh-tumbuhan lain yang ada di sekitar area ini antara lain adalah kelapa dan kopi yang tidak terurus karena memang tidak berpenghuni.
Dalam cerita, pemilik dari wilayah kopen ini merupakan orang-orang yang berdomisili jauh dari luar wilayah ini. Menurut tradisi lisan dan catatan sejarah lokal, tokoh sentral yang dianggap sebagai perintis sekaligus pemimpin pertama di wilayah ini adalah Kyai Dapi, yang juga akrab disapa oleh masyarakat dengan sebutan Mbah Daliyah. Beliau merupakan seorang yang datang pertama di wilayah ini kemudian satu demi satu banyak orang yang datang menyusul untuk menetap dan berdomisili di wilayah ini. Akhirnya, lama-kelamaan, karena banyak orang yang datang untuk bertempat tinggal di sini, wilayah ini menjadi desa, karena di tempat ini banyak ditumbuhi bunga Telaseh (Selasih), sehingga daerah ini diberi nama Desa Meteseh oleh Kyai Dapi.
Pemerintahan Desa Meteseh telah dipimpin oleh Kepala Desa dari periode ke periode sebagai berikut :
- Kyai Dapi (Mbah Daliyah) masa pemerintahan s/d tahun 1927;
- SECO DIKROMO masa pemerintahan dari tahun 1927 s/d tahun 1932;
- DALANG masa pemerintahan dari tahun 1932 s/d tahun 1940;
- DIMPIL masa pemerintahan dari tahun 1940 s/d tahun 1946;
- MERTO ATMODJO (Kasmir) dari tahun 1946 s/d tahun 1953;
- JONO masa pemerintahan dari tahun 1953 s/d tahun 1963;
- W. SUTRISNO masa pemerintahan dari tahun 1964 s/d tahun 1989;
- SISWOYO,SH masa pemerintahan dari tahun 1989 s/d tahun 2007;
- MAOLA BAGUS masa pemerintahan dari tahun 2007 s/d tahun 2019;
- SISYANTO, S.Sos Kepala Desa Terpilih dalam Pilkades 18 Maret 2020 masa pemerintahan tahun 2020 s/d 2028.
Adapun Desa Meteseh terdiri dari 8 Dusun, yaitu :
- Dusun Krajan Barat;
- Dusun Krajan Tengah;
- Dusun Krajan Timur;
- Dusun Teseh;
- Dusun Rowosari;
- Dusun Sasak;
- Segrumung;
- Dusun Slamet.
Peta Desa Meteseh

Pada masa Orde Lama, perkembangan ekonomi Desa Meteseh dimulai dengan adanya Koperasi Konsumsi SEKAR dan Koperasi Produksi Pertanian Desa Meteseh. Catatan dari Kanwil Depkop Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa warga Desa Meteseh pernah mendirikan Koperasi Konsumsi bernama "SEKAR". Koperasi yang berpusat di Desa Meteseh. Organisasi ini lahir dari keinginan bersama untuk saling membantu dan memajukan taraf hidup warga di pedesaan tempat tinggal mereka, yang didasari rasa kekeluargaan dan semangat gotong-royong.
Koperasi Sekar ini menjadi tempat warga belajar untuk mandiri sekaligus mempererat rasa kebersamaan antar sesama tetangga di desa. Usaha yang dijalankan koperasi ini pun sangat dekat dengan keseharian, yaitu mengajak warga rutin menabung. Koperasi ini juga mengelola pembelian barang kebutuhan pokok secara bersama-sama. Lewat cara sederhana ini, warga Desa Meteseh bisa mendapatkan bahan pokok yang jauh lebih mudah.
Kehadiran Koperasi "SEKAR" ini sangat membantu kehidupan warga Desa Meteseh dari berbagai kalangan. Mulai dari para petani, buruh tani, hingga penduduk dengan mata pencaharian lainnya di desa berhak ikut bergabung, dengan syarat mereka tinggal di Desa Meteseh dan siap berkomitmen untuk mengikuti aturan yang disepakati. Setiap anggota cukup melunasi simpanan pokok serta ikut menjaga tata tertib organisasi. Melalui Koperasi ini, upaya masyarakat Desa Meteseh untuk saling menopang di sektor ekonomi lokal ini sukses menguatkan daya tahan hidup warga desa di tengah keterpurukan ekonomi Indonesia pada masa Orde Lama.
Selain koperasi konsumsi, warga Desa Meteseh juga membentuk wadah yang khusus mengurus pertanian. Catatan dari Kanwil Depkop Provinsi Jawa Tengah, berdirinya wadah bernama "Koperasi Produksi Pertanian Desa Meteseh". Langkah ini diambil karena mayoritas warga Meteseh saat itu memang menggantungkan hidup pada pertanian. Prinsip utama yang dipakai tetap sama, yaitu asas kekeluargaan serta semangat gotong-royong warga. Tujuannya sangat jelas, yaitu menyejahterakan para petani sekaligus memajukan Desa Meteseh. Koperasi ini mempunyai peran strategis, mulai dari mengajak anggota untuk rajin menabung hingga mengedukasi warga. Mereka membekali para petani dengan pengetahuan seputar teknik pertanian yang jauh lebih baik.
Koperasi ini juga membantu menjual hasil panen anggota secara bersama-sama. Bahkan, mereka mengupayakan pembelian alat dan bahan tani yang dibutuhkan warga dengan lebih mudah. Langkah nyata ini benar-benar menjadi penyokong utama bagi denyut nadi perekonomian di Desa Meteseh. Sama seperti koperasi sebelumnya, keanggotaan koperasi pertanian ini terbuka luas bagi warga Desa Meteseh. Mulai dari petani pemilik tanah, buruh tani, hingga profesi terkait lainnya. Syaratnya cukup sederhana, yaitu tinggal di Desa Meteseh dan siap berkomitmen pada kesepakatan bersama. Setiap anggota yang terdaftar punya hak suara yang sama untuk berpendapat dan memilih pengurus. Mereka juga diperbolehkan memeriksa pembukuan keuangan koperasi. Transparansi dan keterbukaan ini membuat rasa saling percaya antar warga di desa semakin terjalin kuat. Lewat kerja sama ini, para petani tidak lagi berjuang sendirian saat menghadapi masa gagal panen atau paceklik.
Laporan ini memperlihatkan betapa guyub dan cerdasnya warga Desa Meteseh dalam mengelola potensi desanya. Semangat kebersamaan inilah yang terus diwariskan dan menjadi fondasi penting bagi perkembangan desa. Jejak sejarah ini membuktikan bahwa Desa Meteseh sudah lama tumbuh menjadi desa yang mandiri dan solid.
Desa Meteseh juga memiliki sentral produksi genteng, yang terletak di Dusun Krajan Tengah. UMKM genteng ini sudah berdiri sejak tahun 1985. Pada masa awal berdirinya usaha ini, pengrajin genteng masih membuat genteng secara manual dan tradisional. Kemudian di tahun 1990 ada campur tangan dari Kabupaten dalam memajukan UMKM tersebut dengan adanya beberapa bantuan dari Mesin Penggiling Tanah Liat, Alat Pencetak (Press) serta stimulan permodalan yang disalurkan melalui Paguyuban Pengrajin Genteng. Tahun 1998, ketika Indonesia diserang oleh krisis moneter, UMKM ini juga ikut terkena dampaknya. Bahan-bahan pembuatan genteng, seperti tanah liat, harganya ikut melambung tinggi, akan tetapi harga jual gentengnya menurun. Kemudian, para pekerja juga menuntut kenaikan upah. Namun, setelah melewati masa krisis moneter, UMKM ini mulai bangkit lagi dengan harga bahan yang sudah mulai stabil.



.jpeg)




.jpeg)
